Minggu, 28 Agustus 2011

Tahun Depan Hafidz Al-Qur’an Masuk Tanpa Tes di UNS

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Solo -- Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan langkah terpuji. Mulai tahun depan, siswa setingkat SMA yang hafal Alquran (hafidz) bisa masuk melalui jalur tanpa tes di universitas tersebut.

‘’Keputusan ini sudah mendapatkan persetujuan dan dukungan dari semua pihak. Tahun depan kami rencanakan dimulai, hafidz Quran akan diterima tanpa tes di UNS,’’ kata Rektor Prof Ravik Karsidi.

Saat menutup tarawih di kantor pusat UNS yang berlangsung tujuh kali sejak awal Ramadan lalu, dia mengatakan hal itu sebagai sebuah dukungan atas upaya memberikan nuansa kerohanian bagi kampus.

‘’Kami ingin membentuk insane yang tidak saja memiliki kecerdasan otak, namun sekaligus juga memiliki kesalehan social yang dilandaskan pada ajaran agama, khususnya Alquran,’’ kata dia.

Karena itulah keberadaan para hafidz di kampus itu, diharapkan akan menularkan virus kesalehan seorang manusia yang memiliki ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sekaligus diharapkan akan membawa kesalehan bagi para warga kampus lainnya.

Tidak hanya itu, Ravik juga meminta kepada pengelola fakultas sampai ke jurusan maupun program studi, untuk menjadwalkan secara rutin adanya tausiah ataupun semacam pengajian rutin di lingkungan mereka.

‘’Saya yakin ini salah satu upaya membentuk manusia Indonesia yang berkarakter. Pendidikan karakter itu harus ditanamkan melalui pemahaman agama secara baik oleh semuanya. Karena itu diharapkan langkah ini bisa berlanjut terus,’’ kata dia.

Rektor juga meminta kepada dosen agama Islam di setiap fakultas untuk memelopori kegiatan tersebut di lembaganya. Mereka harus bisa menjadi contoh dalam pengalaman nilai keagamaan bagi lainnya.

‘’Saya ingat di awal-awal bekerja di UNS ini, ada semacam ketakutan atau keengganan seorang dosen yang menunjukkan identitas keislamannya. Situasi dan kondisinya saat itu memang berbeda dengan sekarang,’’ kata dia.

Namun saat ini, justru setiap warga kampus harus bisa menjadi pelopor dalam mengamalkan ajaran agamanya, dan menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Islam yang memiliki kesalehan. (Joko Dwi Hastanto/CN34/JBSM/SMCN) [dakwatuna.com 26/8/2011]

Senin, 22 Agustus 2011

Indonesia Gilas Palestina 4-1

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Solo -- Indonesia meraih kemenangan dalam laga ujicoba melawan Palestina. Sempat ketinggalan 0-1 terlebih dahulu, tim Merah Putih berhasil comeback dan menang 4-1.

Dalam pertandingan di Stadion Manahan, Solo, Senin (22/8/2011) malam WIB, Palestina unggul 1-0 melalui Suleiman Obaid di menit ke-48.

Indonesia menyamakan skor menjadi 1-1 di menit ke-65 melalui Hariono. Malang bagi gelandang milik Persib Bandung itu, dia mengalami cedera udsi mrnvrysk hol. Saat menyambut bola, ia terkena tendangan dari pemain lawan dan membuat pelipisnya bocor.

Indonesia unggul 2-1 saat pertandingan memasuki menit ke-70 melalui Cristian Gonzales yang memanfaatkan umpan dari M.Ridwan.

Bambang Pamungkas mencetak dua gol terakhir Indonesia, masing-masing di menit ke-78 dan ke-85.

Setelah ini, tim "Merah Putih" akan bertolak ke Timur Tengah dan menjalani ujicoba terakhir melawan Yordania pada 27 Agustus. Ada pun Firman Utina dkk akan melakoni laga kualifikasi Piala Dunia melawan Iran di Teheran, pada awal September mendatang.

Jalannya Pertandingan

Pelatih Wim Rijsbergen menurunkan Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, dan Bambang Pamungkas sebagai starter. Sementara itu sebagai penjaga gawang dipercayakan kepada Markus Horison.

Palestina sering merepotkan Indonesia di lini tengah. Gelandang bertahan Hariono dipaksa bekerja keras untuk meredam permainan lawan.

Menit ke-18, tim Merah Putih memiliki peluang lewat Bambang Pamungkas. Berawal dari operan Irfan kepada Zulkifi Syukur. Kemudian Zulkifli melepas bola ke kotak penalti. Bola disambut Gonzales dan kemudian disodorkan ke Bepe. Sepakan Bepe masih menyamping.

Empat menit bersalang, giliran Gonzales yang memiliki kans. Umpan terobosan Bepe berhasil dikejar El Loco dan ia melepas tembakan. Namun usahanya masih menyamping dari sasaran.

Menit ke-32, sepakan Hariono dari luar kotak penalti masih bisa diantisipasi kiper Mohammed Shbair.

Sementara itu Palestina juga memiliki sejumlah peluang dengan memanfaatkan kurang rapatnya barisan pertahanan tim Garuda. Namun begitu penyelesaian akhir yang kurang bagus membuat gawang Markus Horison masih aman.

Di menit awal babak kedua, Palestina langsung mengancam gawang Markus Horison.
Gol! Palestina unggul 1-0 melalui Suleiman Obaid di menit ke-48. Usai lolos dari jebakan off-side, Suleiman berhasil melepas tendangan lob yang gagal dihentikan Markus.

Indonesia berusaha mengejar ketinggalan. Namun begitu rangkaian serangan yang coba dibangun tim besutan Wim Rijsbergen masih belum menghadirkan ancaman berarti bagi kiper lawan.

Gol! Indonesia menyamakan skor menjadi 1-1 di menit ke-65 melalui Hariono. Berawal dari tendangan bebas Gonzales yang berhasil ditepis kiper, Hariono menyundul bola untuk menjebol gawang Palestina.

Malang bagi gelandang milik Persib Bandung itu, dia mengalami cedera. Saat menyambut bola, ia juga terkena tendangan dari pemain lawan yang membuat pelipisnya bocor.

Gol! Indonesia unggul 2-1 saat pertandingan memasuki menit ke-70 melalui Cristian Gonzales yang memanfaatkan umpan dari M.Ridwan.

Bambang Pamungkas! Pemain bernomor 20 ini berhasil membawa Indonesia memperlebar keunggulan menjadi 3-1 di menit ke-78.

Gol ini berawal dari umpan terobosan Gonzaels. Bepe yang lepas dari kawalan pemain Palestina kemudian berlari ke kotak penalti. Meski mkemudian semapat dipepet satu pemain lawan, striker Persija Jakarta itu berhasil melepas tembakan datar yang menembus gawang lawan.

Tujuh menit menuju bubaran, Palestina beberapa kali melancarkan tekanan lewat serangan balik. Sepakan Suleiman bisa ditepis oleh Markus, namun tidak sempurna. Beruntung ada Nasuha yang langsung membuang bola.

Bambang Pamungkas! Bepe berhasil membawa Indonesia unggul 4-1 lewat tendangan keras dari luar kotak penalti di menit ke-85. Gol berawal dari bola yang dioper kepada Gonzales. Namun El Loco kemudian terjatuh karena kawalan pemain lawan. Bola kemudian langsung disambar Bepe untuk menjebol gawang Palestina.


http://www.detiksport.com/

Memaknai Idul Fitri

0 komentar
Ada rasa bahagia dan sekaligus sedih memenuhi relung hati setiap orang yang beriman (mukmin) kala Idul Fitri tiba. Bahagia lantaran sebagai hamba dia telah mampu menyelesaikan satu bentuk pendidikan sekaligus ujian yang diberikan oleh Tuhannya berupa kewajiban menunaikan ibadah-ibadah khusus selama Ramadhan, dengan harapan dan keyakinan akan ampunan atas segala kesalahan dan dosannya serta memperoleh pahala dan kebahagaian yang tak terkira sebagaimana janji-Nya.

Di sisi lain seorang mukmin merasa teramat sedih lantaran harus berpisah dengan Ramadhan, bulan istimewa dengan beragam keutamaannya. Ada sebuah suasana, semangat dan gelora keimanan yang luar biasa di dalam Ramadhan yang mana hal itu tidak dapat dijumpai di bulan-bulan lain. Mereka merasakan betul kebenaran penegasan Rasulullah SAW bahwa seandainya manusia memahami kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan maka mereka pasti akan berharap bahwa satu tahun itu adalah Ramadhan seluruhnya.

Kembali kepada Fitrah

Iedul Fitri adalah kembali kepada kondisi fitrah, yakni kondisi awal penciptaan manusia. Dalam Al Qur-an surat Ar Ruum ayat 30 Allah berfirman yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid yakni menyembah Tuhan yang satu Allah SWT. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar (menyimpang dari fitrah). Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Berbagai amal ibadah di bulan Ramadhan semuanya mengarahkan dan mengantarkan para pelakunya (orang-orang beriman) kepada kondisi fitrah ini. Puasa (shaum) mengajari setiap muslim untuk senantiasa merasakan keberadaan dan pengawasan Allah (muraqabatullah), dengan demikian ia akan senatiasa berbuat kebaikan dan melandasi segala aktifitasnya dengan keikhlasan. Bagaimana tidak, sangat mudah bagi mereka bersembunyi dari pantauan manusia dan membatalkan puasanya (misal dengan makan dan minum), dan kemudian di hadapan khalayak tetap berpura-pura layaknya orang berpuasa. Akan tetapi berangkat dari keimanan dan perasaan muraqabatullah dalam hatinya menjadikan mereka tetap komitmen menjalankan puasa. Dengan shaum seorang hamba mampu mengendalikan jiwanya untuk tidak berkubang dalam kehinaan, kenistaan dan kesenangan materi duniawi. Sebaliknya jiwa tersebut dibawa membumbung tinggi pada keluhuran, kesempurnaan dan kebahagiaan di sisi Tuhannya.

Madrasah Ramadhan telah membiasakan setiap muslim untuk selalu dekat dengan Al Qur-an. Jiwa-jiwa yang suci (sesuai fitrah) tidak hanya menyadari keberadaan Tuhannya tapi mereka juga meyakini dan menyadari bahwa Tuhannya juga telah menurunkan panduan dan pedoman hidup yakni firman-firman-Nya yang terhimpun dalam kitab suci. Tidak mungkin manusia akan sampai berjumpa dengan Allah dan mendapatkan kebahagiaan di sisi-Nya tanpa mengikuti rambu-rambu jalan dan aturan yang Dia tetapkan, dan semua itu terdapat dalam Al Qur-an. Di sisi lain ketika kita berbicara tentang Islam, maka sesungguhnya rujukan utama ajarannya tidak lain adalah Al Qur-an. Maka tidak mungkin seseorang akan menjadi muslim yang sempurna tanpa memahami Al Qur-an. Dari sinilah kita dapat menyatakan bahwa adalah sebuah keniscayaan seorang muslim harus erat berinteraksi dengan kitab sucinya. Interaksi tersebut meliputi: membacanya (tilawah), memahami isinya, mengamalkan ajarannya, menghafalakan ayat-ayatnya (tahfizh), serta mengajarkannya kepada orang lain.

Ramadhan juga membiasakan kaum muslimin dengan qiyamullail. Sebuah aktifitas yang menjadi bekal kekuatan Rasulullah SAW menerima amanah dakwah yang teramat berat untuk dipikul. Allah SWT berfirman yang artinya “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu, dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.” (Al Muzzammil: 1-5). Dengan memperbanyak qiyamullail hubungan seorang hamba dengan Allah kian erat dan kokoh. Tingkat tawakal mereka juga semakin tinggi, sehingga jiwa mereka akan kuat dan tidak goyah lantaran yakin dengan dukungan Allah SWT.

Demikian juga seluruh amal sholih yang lain di bulan Ramadhan seperti memberi makan orang miskin dan orang yang berpuasa, menghadiri majelis ilmu, i’tikaf, umroh, silaturrahim, zakat semuanya mengandung hikmah besar yang muaranya adalah mengantarkan para pelakunya pada kondisi kesucian (fitrah). Seluruh aktifitas ibadah tersebut menyampaikan para pelakunya pada derajat ketaqwaan, sebuah kondisi kesadaran penuh sebagai seorang hamba yang akan senatiasa mengingat dan menyadari keberadaan Tuhannya, dan kemudian dia akan bersikap tunduk dan patuh kepada-Nya. Ia senantiasa siap memberikan ketaatan dan menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian sesuai aturan (syari’at)-Nya.

Jangan Mengurai Benang Yang Telah Dipintal Rapi

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...” (An Nahl: 92)

Ayat ini memberikan sebuah perumpamaan tentang perbuatan sia-sia dan merugikan, di mana seseorang yang telah bersusah payah memintal kumpulan benang menjadi kain yang bagus, kemudian malah dia urai kembali hingga tercerai berai.

Berbagai latihan dan gemblengan yang diterima oleh setiap mukmin satu bulan penuh seyogyanya menjadikan mereka keluar dari Ramadhan menjadi pribadi-pribadi yang baik (sholih) dan suci sesuai fitrahnya. Artinya kesholihan dan kesucian tersebut tidak hanya mereka capai di bulan Ramadhan saja, tetapi yang lebih penting lagi adalah dapat dia pertahankan di luar Ramadhan. Seluruh kebaikan yang mereka lakukan di bulan Ramadhan harus tetap dipertahankan bahkan berusaha ditingkatkan dan disebarkan di luar Ramadhan. Dengan demikian ada sebuah perubahan atau peningkatan kualitas kesholihan seorang mukmin dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dengan madrasah Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan seseorang jarang sholat berjamaah di masjid, kemudian selama Ramadhan dibiasakan dan ringan melangkah ke masjid, maka setelah Ramadhan dia akan senantiasa berusaha mempertahankan kebiasaan sholat jamaah di masjid tersebut. Inilah orang yang berhasil dengan Ramadhannya dan menggapai ‘Iedul Fitri. Tapi jika memasuki Syawwal justru kemudian berbalik kepada kebiasaan sebelum Ramadhan, sehingga kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadhan tidak ada sedikitpun sisanya, sungguh mereka tidak menggapai Iedul Fitri. Wallahu a’lam.


Judi Muhyiddin
Penyuluh Agama Islam
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi
(Tulisan ini telah di muat di Majalah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat "MEDIA PEMBINAAN" edisi No. 06/XXXVII September 2010, halaman 9)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Penyuluh Agama Menutup Pesantren Kilat SDIT Al Fikri

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Serang Baru -- Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Fikri Serang Baru melaksanakan penutupan kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan pada hari Sabtu (20/8/2011). Kegiatan penutupan tersebut diisi dengan beragam acara seperti pentas seni para siswa, santunan anak yatim, pembagian hadiah terkait berbagai perlombaan dan ceramah agama.

Ketua Yayasan Al Fikri, Asmeldi Firman, Ak. menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya berbagai kegiatan dalam menghidupkan Ramadhan di lingkungan SDIT Al Fikri. Asmeldi berharap kegiatan-kegiatan semacam itu dapat ditingkatkan di masa yang akan datang.

Sementara itu Judi Muhyiddin, S.Sos.I. mengisi ceramah umum keagamaan dalam kegiatan tersebut. Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Serang Baru ini mengajak para hadirin khusunya para orang tua/wali murid untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik peningkatan keimanan dan prestasi amal sholih. Ramadhan yang disediakan khusus untuk orang-orang beriman ini seyogyanya dapat menjadi momen pembiasaan amal kebaikan bagi setiap muslim. Artinya berbagai amal kebaikan dan ibadah yang selama ini dilaksanakan di bulan Ramadhan semestinya harus dijaga dan dijadikan kebiasaan pada saat setelah Ramadhan. Penyuluh Agama menggaris bawahi bahwa orang-orang yang sukses dalam Ramadhannya dan meraih 'Iedul Fitri adalah mereka yang sanggup menjaga kebiasaan-kebiasaan amaliyah Ramadhan di luar Ramadhan seperti puasa, tilawah Al Qur-an, qiyamullail dan memperbanyak shadaqoh.

Jumat, 19 Agustus 2011

I'tikaf Bersama Dr. Hidayat Nur Wahid dkk di Kabupaten Bekasi

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Bekasi -- Dr. Hidayat Nur Wahid, KH. Zaenal Muttaqin, Lc., Samson Rahman, MA, Ahmad Sarwat, Lc, Farid Nu'man, Syahrul Syah dan ustadz-ustadz kenamaan lainnya dijadwalkan hadir menemani umat Islam di wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya dalam i'tikaf yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Ikatan Dai Indonesia (PD Ikadi) Kabupaten Bekasi.

Berikut ini informasi sekaligus undangan selengkapnya:

PD IKADI Kab. Bekasi bekerjasama dengan DKM Baitul Musthofa Kawasan Industri MM2100 mengajak kaum muslimin di wilayah Bekasi dan sekitarnya untuk mengoptimalkan 10 hari terakhir Ramadhan 1432 H dengan beri'tikaf.

"Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ber i'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan Allah, kemudian istri-istrinya pun itikaf setelah itu." (HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)

Tanggal:
20 - 27 Ramadhan 1432 H / 20 - 27 Agustus 2011

Tempat:
Masjid Baitul Musthofa Jalan Kalimantan Kawasan Industri MM2100 Bekasi
(Depan PT Astra Honda Motor / AHM)

Insyaallah akan diisi dengan Kuliah I'tikaf dan Kuliah Subuh dengan jadwal sebagai berikut:

Tanggal;Kuliah I'tikaf; Kuliah Subuh

20 Agustus 2011; Ust. KH. M. Zaenal Muttaqien, Lc; Ust. Najiyulloh, Lc
21 Agustus 2011; Ust. Samson Rahman, MA; Ust. Syahrizal Kholid, S.Sos
22 Agustus 2011; Ust. Ahmad Sarwat, Lc; Ust. Muhammad Nuh, Lc
23 Agustus 2011; Ust. Drs. Bali Pranowo, MBA; Ust. Adih Amin, MA
24 Agustus 2011; Ust. Syahrul Syah; Ust. Abu Aqila
25 Agustus 2011; Ust. Ahmad Al Habsyi; Ust. Farid Nu'man S.S
26 Agustus 2011; Ust. Dr. Hidayat Nur Wahid; Ust. Hisbulloh Undu, Lc (Alhafidz)
27 Agustus 2011; Ust. Dr. Ayub Rohadi, Mphil; Ust. Nuryasin, Lc

Imam Qiyaumullail oleh Ust. Khaidir, Lc Alhafidz dan Ust. Nur Khozin, Lc Alhafidz.

Silahkan daftar dengan hadir langsung ke Masjid Baitul Musthofa.

Untuk informasi lebih lanjut dan rute kendaraan silahkan menghubungi bapak Agus Wahyu (085780747496) atau Denny Wahyudi (08121032019)

Pasport

0 komentar
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.


Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=57

Kamis, 18 Agustus 2011

Ifthor Jama'i Bersama Warga RT 05 / 10 Perum Mega Regency

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Serang Baru -- Dalam rangka mengokohkan silaturrahim dan persatuan warga maka pengurus RT 05 RW 10 Perumahan Mega Regency Desa Sukasari meyelenggarakan buka bersama (ifthor jama'i) pada hari Rabu (17/8/2011). Buka bersama kali ini sekaligus diisi dengan berbagai kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-66.

Beragam permainan dan perlombaan digelar dengan peserta anak-anak di lingkungan RT 05. Selesai perlombaan panitia segera mengumumkan nama-nama pemenangnya dan memberikan hadiah kepada para pemenang. Nampak hadir dalam kesempatan tersebut Ketua RW 10, Ketua RT 05/10 dan Ketua DKM Al Muhajirin.

Setelah selesai penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba, sambil menunggu datangnya waktu Maghrib, warga mengikuti taushiyah yang disampaikan oleh Ustadz Judi Muhyiddin, S.Sos.I. - Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama Kecamatan Serang Baru yang sengaja diundang oleh pengurus RT.

Dalam taushiyahnya, Penyuluh Agama menekankan pentingnya persatuan ummat dalam rangka mewujudkan kebaikan dan kejayaan ummat. Tanpa persatuan tidak mungkin umat Islam akan menjadi ummat terbaik (khairu ummah) dan tidak mungkin mereka akan meraih kemenangan dalam segala medan perjuangan.

Ket: Gambar/Foto adalah ilustrasi, diambil dari pkscibitung.wordpress.com

Senin, 15 Agustus 2011

Elit Politik Lebih Pentingkan Citra Ketimbang Tugas dan Tanggungjawab

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Yogyakarta -- Perilaku elit politik saat ini lebih mementingkan citra personal dan partai daripada melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Hal itu dikatakan pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito.
"Apa yang dilakukan elit politik itu tidak ubahnya dengan perilaku politik palsu. Jika politik palsu terus dibiarkan, demokrasi kian rapuh," katanya di Yogyakarta, Jumat (12/8).

Menurut Arie, masyarakat hendaknya tidak memilih partai atau pemimpin berdasarkan citra, tetapi atas dasar ideologi. Meskipun untuk membangun politik ideologi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Hal itu disebabkan lemahnya proses kaderisasi di tingkat partai. Selama politik ideologi tidak dimunculkan, maka pragmatisme akan berjalan terus," katanya.

Lemahnya kaderisasi partai, kata Arie, tidak pernah dibenahi oleh partai. Bahkan, lemahnya kader baru dirasakan oleh partai saat menjaring calon politikus menjelang pemilihan umum (pemilu). "Partai-partai baru sadar jika tidak mempunyai kader saat menjelang pemilu," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM ini.

Menurut dia, minimnya kader militan menjadikan bekas anggota partai lebih mudah berpindah dan berganti partai atau melakukan tindakan kontraproduktif terhadap partainya sendiri. "Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah bagaimana membentuk politik ideologi, bukan politik kufuran atau citra," tegasnya.


Redaktur: cr01
Sumber: REPUBLIKA.CO.ID dari Antara

Penyelenggara tak Profesional, Indonesia Tarik Mundur Komodo dari "Seven Wonders"

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Jakarta -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menarik mundur Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban alam baru atau "New seven wonders of nature" (N7WN).

"Keputusan ini diambil karena pihak penyelenggara kampanye New 7 Wonders (N7W) Foundation telah melakukan tindakan tidak profesional, tidak konsisten, dan tidak transparan, serta tidak memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan," kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, di Jakarta, Senin (15/8).

Menurut menteri dalam acara jumpa pers, meski TNK mengundurkan diri dari kampanye pemilihan tujuh keajaiban alam versi yayasan New 7 Wonders, namun TNK tetap merupakan "world heritage" atau warisan dunia yang diakui Unesco pada 1991.

Pada Agustus 2008, Kemenbudpar menjadi Official Supporting Committee (OSC)/Lead Agency untuk mendukung TNK sebagai salah satu dari 7 keajaiban alam baru yang pemilihannya dilakukan melalui "online voting".

Kemenbudpar telah melakukan serangkaian kegiatan kampanye "online" dan "offline" baik di dalam maupun di luar negeri untuk mempromosikan dan mendukung TNK. Upaya itu membuahkan hasil pada 21 Juli 2009 saat TNK terpilih sebagai salah satu dari 28 finalis kampanye N7WN setelah menyisihkan 440 nominasi dari 220 negara.

Dalam perjalanannya muncul polemik, yayasan N7W pada awal Desember 2010 menyatakan setuju Indonesia dalam hal ini Jakarta sebagai Tuan Rumah Penyelenggaraan (Official Host) deklarasi 7 keajaiban dunia alam.

Panitia kemudian mensyaratkan Pemerintah Indonesia membayar "license fee" sebagai tuan rumah penyelenggaraan deklarasi sebesar 10 juta dolar AS serta menyiapkan 35 juta dolar AS sebagai biaya penyelenggaraan acara deklarasi.

Padahal Kemenbudpar baru sekadar menyatakan minat untuk menjadi tuan rumah. Indoneia sama sekali belum menandatangani persetujuan apapun maupun mendaftarkan proposal "bidding" resmi seperti yang disyaratkan yayasan N7W pada dokumen New7Wonders Official Host Worldwide Bidding Tender.

Permintaan itu kemudian ditolak oleh Kemenbudpar karena dinilai tidak realistis namun sebagai reaksi penolakan itu, yayasan N7W pada akhir Desember 2010 mengancam akan mengeliminasi TNK sebagai finalis N7W.

Menurut Wacik, kedua hal tersebut sangat tidak berhubungan karena keberadaan TNK sebagai finalis kampanye N7WN dan penawaran yayasan N7W untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan merupakan dua hal yang berbeda. Dua hal itu seharusnya tidak memiliki keterkaitan sama sekali.

Pada 7 Februari 2011, yayasan N7W memutuskan untuk tetap mempertahankan TNK sebagai finalis. Tapi secara sepihak melakukan tindakan penghapusan peran Kemenbudpar sebagai OSC.

Keputusan itu dianggap sepihak dan tidak adil karena tidak didasari dengan alasan yang jelas. Selain itu pihak N7W tidak mencabut maupun membatalkan perjanjian Standard Participating Agreement yang merupakan satu-satunya dokumen resmi yang telah ditandatangani bersama pada awal kampanye yang menyatakan Kemenbudpar adalah OSC dari TNK pada kampanye N7WN.

Kemenbudpar kemudian menunjuk pengacara Todung Mulya Lubis untuk menghadapi persoalan itu. Todung berpendapat, Kemenbudpar tidak pernah melakukan "wan-prestasi" dalam Standard Participating Agreement yang telah disepakati.

"Kami sudah kirimkan surat somasi yang dijawab oleh 'legal consult' mereka di London. Kami balas surat itu dan hingga hari ini tidak ada tanggapan dari mereka," katanya.

Ia menambahkan tindakan yayasan N7W menghapus Kemenbudpar sebagai OSC melanggar prinsip hukum universal. "Tidak ada perjanjian yang dibatalkan secara sepihak karena tidak ada pelanggaran yang terjadi di sini," katanya.
Stop Kampanye

Kemenbudpar menemukan beberapa fakta tentang yayasan N7W yang sangat berorientasi komersil, meski menyatakan diri sebagai yayasan nirlaba. Selain itu pelaksanaan kampanye N7WN tidak konsisten dan transparan.

Sebagai sebuah organisasi internasional, pihaknya menilai yayasan itu sangat ganjil ketika ditemukan fakta bahwa yayasan N7W tidak memiliki domisili/kantor yang jelas dan dikelola oleh hanya segelintir orang (kemungkinan hanya merupakan virtual office) namun hendak berurusan dengan transaksi jutaan dolar AS.

"Masyarakat dunia akan tetap mengakui Komodo sebagai 'satu-satunya naga yang ada dan nyata di dunia' dan fakta ini tidak akan dapat tergantikan. Untuk itu kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan dan mempromosikan TNK sebagai kawasan konservasi dan destinasi pariwisata internasional di Indonesia.

Melalui branding 'Komodo the Real Wonder of the World', kita akan promosikan TNK ke seluruh dunia," kata Wacik. Kemenbudpar yang telah berperan sebagai "lead agency" untuk TNK pada kampanye N7WN, berketetapan tidak melanjutkan kampanye bersama dengan yayasan N7W.

Dirjen Pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, menyatakan saat TNK menjadi finalis N7W selama tiga tahun, promosi ke mancanegara gencar dilakukan. "TNK telah dikenal masyarakat dunia dan kunjungan ke destinasi itu juga meningkat pesat," kata Sapta.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: REPUBLIKA.CO.ID dari Antara

Ingin Laku, Kampus Harus 'Jualan' Lewat Media Sosial

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Australia -- Akses atas dunia maya telah mengubah pasar pendidikan internasional yang mencapai 3,5 juta orang. Ini merupakan hasil proyek penelitian empat tahunan yang dilakukan unit Intelijen Pendidikan British Council, yang diterbitkan secara eksklusif oleh The Australian, Senin (15/8/2011).
Menurut Manajer Penelitian, Elizabeth Shepherd, penelitian menunjukkan, institusi pendidikan dengan kualitas terbaik yang ingin menarik mahasiswa harus memuat informasi yang dapat diakses dengan mudah. “Ini berarti mereka harus online secara ekstra,” katanya menjelaskan.

Penelitian menemukan, banyak universitas yang menggunakan situs universitas sebagai rincian jurusan dan akomodasi. Penelitian menunjukkan, situs mengambil alih peran brosur. Kehadiran kampus melalui situs juga bersaing dengan pameran mengenai pendidikan, yang kerap menjadi sarana pertemuan kampus dengan calon mahasiswa.

Namun, Shepherd memperingatkan, banyak kampus yang menyasar pasar tujuan utama masih memandang remeh dunia maya, terutama media sosial. “Tapi media sosial sekarang menjadi pekerjaan utama,” katanya.

Shepherd menunjuk ke University of Auckland yang ada di Australia karena kehadirannya yang sangat besar di dunia maya, terutama dalam menargetkan pasar utama mahasiswa internasional yang berasal dari China. “Mereka menggunakan banyak konten media seperti YouTube, blog, chatting serta memberikan terjemahan,” jelasnya.

Survei ini dilakukan atas 127 ribu siswa dari 200 negara yang tengah mempertimbangkan belajar di luar negeri. Survei menemukan, situs universitas merupakan sumber informasi paling penting untuk calon mahasiswa dalam membuat pertimbangan.

Selain itu, juga ditemukan tantangan yang dihadapi lima negara (AS, Inggris, Australia, Jerman dan Selandia Baru) yang paling banyak menerima mahasiswa internasional, yaitu kebutuhan informasi dalam bahasa lokal.

Pasalnya, sebanyak 70 persen dari informasi di situs, dimuat dalam bahasa Inggris. Padahal hanya 27 persen pengguna internet yang berbahasa Inggris dan diikuti oleh Mandarin, sebanyak 23 persen.

Menurut survei ini, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Hong Kong memiliki tingkat penetrasi internet paling tinggi yaitu sebesar 70-80 persen. Turki mengikuti dengan 50 persen per akses.

Namun, dua pasar mahasiswa asing terbesar di dunia, yaitu China dan India, memiliki akses di dunia maya jauh lebih rendah. Angka penetrasi internet untuk China dengan jumlah 820 ribu mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah sekitar 30 persen. Sementara India, angkanya hampir tidak mencapai 5 persen.

Karena itu, Shepherd mendorong perguruan tinggi agar berinvestasi dalam membuat situs multi bahasa dengan informasi spesifik dari negara bersangkutan.

Meski penelitian ini menemukan peran dunia maya semakin meningkat, namun kontak pribadi tetap tidak bisa digantikan. Kontak pribadi dinilai sangat berperan bagi calon mahasiswa dalam membuat keputusan akhir.

Menurut survei, situs universitas berguna sebagai informasi awal. Namun, keputusan dibuat berdasarkan saran yang diberikan orang yang mereka percaya atau tatap muka dengan staf universitas atau agen pendidikan secara langsung.


Tapi, tentu saja kebutuhan untuk kontak pribadi menciptakan peluang di dunia maya. “Ada banyak hal yang dapat dilakukan. Misalnya, dengan menggunakan alumni online,” pungkas Shepherd.
(rhs)

Sumber: http://kampus.okezone.com/

Jaja Jaelani: Para Dai Harus Memahami Kondisi Masyarakat

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Bekasi -- Agar berhasil dalam melakukan dakwah dan pembinaan para dai dituntut memahami kondisi masyarakat objek dakwahnya. Hal itu disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Drs.H. Jaja Jaelani,MM dihadapan peserta Kegiatan Pembinaan Dai yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Ikatan Dai Indonesia (PD Ikadi) Kabupaten Bekasi. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Ahad (14/8/2011) di masjid Baiturrahman PT Indofarma, Tbk. Cikarang Barat tersebut diikuti oleh para pengurus DKM, para muballigh, dan para dai di wilayah Kabupaten Bekasi.

Lebih lanjut dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi mengingatkan bahwa tantangan dakwah dan pembinaan masyarakat saat ini semakin berat. Para muballig dan para dai tidak seyogyanya berkutat dengan hal-hal khilafiyah di tengah ummat. Mereka harus bisa memprioritaskan hal-hal penting dan lebih mendesak yang dibutuhkan masyarakat. Mereka juga harus berorientasi pada usaha mempersatukan dan mengeratkan persaudaraan ummat dan masyarakat.

H. Jaja juga berharap kegiatan pembinaan dai yang dilaksanakan oleh PD Ikadi Kabupaten Bekasi dapat berkesinambungan dan hal itu diakui turut menjadi kontribusi dalam keberhasilan pembangunan pemerintah daerah Kabupaten Bekasi yang diantara visinya adalah mewujudkan masyarakat Bekasi yang agamis.

Di akhir sambutannya, dengan membaca Ummul Qur-an Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi membuka secara resmi Kegiatan Pembinaan Dai PD Ikadi Kabupaten Bekasi tersebut. [JM]

Minggu, 14 Agustus 2011

Ikadi Kabupaten Bekasi Melaksanakan Kegiatan Pembinaan Dai

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Bekasi -- Pengurus Daerah Ikatan Dai Indonesia (PD Ikadi) Kabupaten Bekasi menyelenggarakan kegiatan pembinaan bagi para dai di wilayah Kabupaten Bekasi pada hari Ahad (14/8/2011). Kegiatan yang dilaksanakan di masjid Baiturrahman PT Indofarma Tbk. Cikarang Barat tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi Drs. H. Jaja Jaelani, MM.

Tema kegiatan pembinaan ini adalah "Revitalisasi Peran Muballigh/Dai Dalam Proses Perbaikan Ummat Menuju Masyarakat Yang Agamis". Dalam laporannya Ketua panitia penyelenggara Judi Muhyiddin, S.Sos.I. menyampaikan tiga tujuan penyelenggaran kegiatan tersebut yakni sebagai sarana penyegaran para muballigh dan dai dalam meniti jalan dakwah yang panjang dan berliku, sebagagai sarana silaturrahmi dan konsolidasi para dai di wilayah Kabupaten Bekasi dan sebagai sarana menghidupkan Ramadhan.

Sementara itu Dr. Ayub Rohadi, M.Phil selaku Ketua PD Ikadi Kabupaten Bekasi dalam sambutannya mengingatkan penting dan starategisnya posisi para dai di tengah ummat dan masyarakat. Beliau menjelaskan visi Ikadi diambil dari visi Islam yakni menebarkan rahmatan lil alamin. Dr. Ayub mengingatkan para dai harus menyampaikan Islam dengan bijak dan simpatik. Dengan sedikit berkelakar, beliau menjelaskan bahwa salah satu ciri dai Ikadi adalah murah senyum, di manapun dan ketemu siapapun mereka selalu menghadirkan senyum, karena sebagai salah satu manifestasi rahmatan lil alamin.

Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus DKM, para muballigh dan para dai di wilayah Kabupaten Bekasi. Panitia menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Attabiq Luthfi, MA (Ketua PW Ikadi DKI Jakarta) dan KH. M. Zaenal Muttaqin, Lc. (Pengasuh Ponpes Yatim Al Lathifah Cikarang Barat). [JM]

Selasa, 09 Agustus 2011

Penyuluh Agama Sukses Menggelar Kajian Umum Ramadhan

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Bekasi -- Dalam rangka mengokohkan ukhuwwah dan persatuan umat Islam khususnya di wilayah Kecamatan Serang Baru, Penyuluh Agama Islam bekerjasama dengan Pengurus Cabang Persaudaraan Muslimah (PC Salimah) Kecamatan Serang Baru menyelenggarakan kajian umum bertema "Bijak Menyikapi Perbedaan (Ikhtilaf) di tengah Ummat".

Kajian yang dilaksanakan pada hari Ahad (7/8/2011) di masjid Nurul Hidayah, Ds. Sukaragam ini menghadirkan M. Hilman Hakim, S.Ag. MM sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Kepala Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi tersebut menegaskan urgensi kerukunan dan persatuan sebagai modal dasar pembangunan. Beliau menjelaskan tentang Tri Kerukunan Hidup Umat Beragama yang harus diwujudkan oleh setiap anggota masyarakat yakni kerukunan hidup inter umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah.

Sementara itu dua narasumber yang dihadirkan yakni Dr. Ayub Rohadi, M.Phil dan H. Wawan Aonillah Kamil, MA menjelaskan dengan panjang lebar tentang latar belakang munculnya perbedaan (ikhtilaf) di tengah umat Islam dan memberikan contoh-contoh dalam keseharian kaum muslimin.

Dr. Ayub yang merupakan ketua Pengurus Daerah Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) Kabupaten Bekasi ini dengan gamblang menegaskan bahwa perbedaan (ikhtilaf) adalah keniscayaan dan tidak mungkin dihindarkan.

Selanjutnya H. Wawan Aonillah yang merupakan pengasuh pondok pesantren Al Kamiliyyah Cibogo - Cibarusah menambahkan bahwa yang lebih penting adalah bukan bagaimana menghapus ikhtilaf, melainkan bagaimana umat Islam menyikapi ikhtilaf tersebut dengan bijak.

Intinya, sebagaimanan disimpulkan oleh Judi Muhyiddin, S.Sos.I selaku Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Serang Baru sekaligus sebagai moderator dalam kesempatan tersebut perbedaan (ikhtilaf) adalah hal yang biasa saja dan manusiawi. Semestinya hal itu tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi pengaya khazanah kehidupan umat Islam.

Kamis, 04 Agustus 2011

Dibutuhkan, Da'i dan Ulama Melek Teknologi

0 komentar
MIMBARPENYULUH.COM | Jakarta -- Kehadiran teknologi informasi belum mampu membawa perubahan positif bagi umat. Kondisi itu tidak terlepas dari kondisi "gagap teknologi"yang dialami para da'i dan ulama dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan syiar Islam.

Kondisi itu diungkapkan Ketua Umum, Ikatan Dai Indonesia, Ahmad Satori Ismail, kepada republika.co.id, saat dihubungi via sambungan telepon, Senin (11/7/2011). "Gagap teknologi, itu yang menjadi masalah,".

Satori mengatakan teknologi informasi berkembang semikian pesatnya. Kondisi itu sewajarnya bisa dimanfaatkan para da'i untuk mengembangkan syiar Islam. Apalagi, kehadiran teknologi informasi membawa dua sisi pengaruh yang sangat kuat, yakni pengaruh positif atau negatif. "Kedua hal itu tidak bisa diabaikan," kata dia.

Selama ini, menurut Satori, terbukanya arus informasi berkat teknologi yang mumpuni belum bisa dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam membentengi umat dari hasutan, provokasi dan kesesatan. Untuk itulah, da'i yang melek teknologi diperlukan guna menanggulangi persoalan tersebut."Banyaknya hal negatif, perlu diimbangi dengan hal-hal positif," kata dia.

Untuk itu, ke depan, perlu ada semacam pelatihan kepada para da'i guna melek teknologi. Sebab, tantangan di masa depan, informasi negatif yang tadi disebutkan perlu diimbangi dengan informasi positif.

"Masalahnya sekarang, da'i hanya sebatas mengunduh namun belum mengisi. Ini pekerjaan rumah umat Islam yang harus diselesaikan."

Sumber: http://www.ikadi.or.id/ dari Republika

Rabu, 03 Agustus 2011

MTQ Akhirat

0 komentar
Di bulan Ramadhan tahun 60-an, di rumah orang tua saya di Pekalongan, biasanya tarawih dipimpin oleh seorang hafiz yang mengimami shalat dengan membaca satu juz sepanjang 8 rakaat tambah 3 rakaat witir. Dengan demikian, imam yang hafal Quran ini meng-khatam-kan 30 juz sebulan puasa dalam shalat tarawih.

Kaki yang berdiri puluhan menit luar biasa pegal terasa pada lutut karena produksi asam laktat yang melimpah pada sendi-sendi. Gerakan sujud dan tahiat terasa melegakan betul, karena sekaligus jadi permulaan istirahat. Tanpa pengeras suara, bacaan imam terdengar lantang dan indah.

Peserta yang bertahan ikut terus jumlahnya tidak banyak. Yang tidak kuat, boleh melakukannya sambil bersimpuh saja.

Selepas tarawih, ibu saya dan murid-murid beliau menyediakan kolak dan makanan kecil. Orang-orang memijit kaki masing-masing sambil menyandar ke dinding. Sambil melepaskan lelah dan menyendok kolak, terasa kenikmatan batin yang sukar menjelaskannya.

Pada tahun 1993, tarawih Ramadhan saya lalui di Mesjid Kampung Pandan Kuala Lumpur. Imam kami hafiz buta. Suaranya merdu dan kuat. Satu juz satu malam itu dibaginya merata ke dalam 23 rakaat. Di saf paling depan sebelah kiri, sebuah mushaf Quran besar terbentang miring di atas meja, dan dua orang makmum bertugas mengontrol bacaan imam. Jarang terjadi kesalahan baca.

Sehabis tarawih, berlangsung festival memijit kaki. Sambil ngobrol, imam kami memijit-mijil kaki sendiri di-rubung jamaah, yang juga memijit-mijit betis kaki. Kami merasa-kan kenikmatan batin yang sukar menjelaskannya.

Rasa heran yang kemudian berkembang jadi rasa hormat pada orang-orang yang hafal Quran, dimulai sejak saya merasakan tidak mudahnya menghafalkan surah-surah panjang Kitab Suci itu. Ada rasa menyesal mengapa waklu kecil dulu tidak rajin menghafal, ketika ingatan masih segar dan daya serap kuat.

Salah satu surah favorit keluarga adalah surah ke-15, yaitu al-Kahfi. Dalam keluarga kami, surah ini menempati posisi khusus, karena ayah dan ibu, nenek pihak ibu, kemudian nenek dan kakek pihak ayah, hafal surah ini. Mereka mewiridkan membacanya pada malam Jumat. Karena tidak hafal surah ini, mana mungkin saya memiliki kartu anggota Klub Kahfi dalam keluarga. Menghafal Surah Yasin saja yang panjangnya lebih sedikit seperdua Surah Kahfi, sering bingung sendiri pada bagian “inkaanat illa shaihatan waahidatan…” karena tertukar-tukar lanjutannya pada ’ain kedua atau ’ain ketiga. Tapi kenikmatan batin yang sukar dijelaskan selalu berlangsung setiap sehabis kontak dengan Alquran.

Sesudah beberapa kali tidak berhasil mengikuti pertemuan para penghafal Quran, barulah pada 1983 atau 1984 saya dapat menyertainya. Tentu saja bukan sebagai anggota, cuma sebagai seorang simpatisan saja.

Pertemuan ini tanpa genderang publikasi, tidak ada sambutan pejabat negara, dan jangan dibayangkan ada fasilitas seperti di kota besar. Kesederhanaan yang sejati mewarnai peristiwa itu. Seingat saya, kurang lebih ada 600 penghafal Quran yang berkumpul waktu itu dari seluruh Indonesia. Di luar dugaan saya, mayoritas mereka muda-muda, masih pada umur dua puluh-tiga puluhan, dan mungkin lebih banyak wanita ketimbang prianya.

Pertemuan berlangsung di kota kecil Brebes di pesisir utara Jawa Tengah, daerah pertanian yang menghasilkan bawang yang terkenal itu. Acaranya adalah silaturahmi dan bersama mengkhatamkan Quran. Mereka tersebar menginap di rumah-rumah penduduk yang menerima mereka dengan ramah. Mereka mulai secara terpisah-pisah di rumah-rumah itu membaca Quran (tentu tanpa melihat mushaf) di malam hari, disambung keesokannya, kemudian lepas tengah hari berkumpul di bawah tenda sederhana membaca juz terakhir bersama-sama.

Saya ikut duduk di belakang, paling pinggir di bawah tenda. Matahari menjelang Ashar yang terik menyinari kota kecil itu. Aroma bawang yang baru habis dipanen mengembang di udara. Ayam berlarian ke sana kemari, suara burung tekukur terdengar sekali-sekali.

Satu surah demi satu surah dari Juz Amma mengalun bersama-sama. Iramanya teratur. Ketukannya tepat. Keindahan bacaannya luar biasa mengharukan. Tak ada kabel yang menghubungkan peristiwa ini dengan stasiun transmisi, tak ada kontak dengan media elektronika dunia karena jamaah ini tidak memerlukannya. Kabel yang menghubungkan mereka tidak kasat-mata. Kabel mereka langsung ke atas sana tanpa batas.

Ini bukan MTQ yang didukung uang belanja negara, memperebutkan hadiah dan dahaga liputan media massa. Mereka adalah para hafiz dan hafizah yang sangat sederhana, nyaris miskin serta tidak dikenal di atas buminya sendiri tapi insya Allah mereka masyhur fissama’.

Saya bayangkan malaikat berjuta-juta melindungi jamaah Quran ini, melingkari tanah dan melindungi langit di atas tenda itu. Sayap-sayap mereka berkelepakan. Lewat Surah Ad-Dhuha menuju An-Nas, bacaan makin menggetar mengharukan dalam paduan suara mereka. Selesai minal jinnati wannas, jamaah melaju ke Fatihah dan Baqarah 284-286. Lalu ditutup dengan serangkaian doa panjang, yang dibasahi oleh air mata penduduk yang hadir. Betapa beruntungnya saya ikut di kursi pinggir menadahkan dua telapak tangan dan mengucapkan “amin” bersama para hafiz dan hafizah itu.

Kedahsyatan doa khatam Quran para hafiz dan hafizah di kawasan petani bawang itu, menurut catatan pengalaman pribadi saya, cuma dua-tiga derajat di bawah kedahsyatan doa Arafah di bulan Zulhijjah dan doa tahajud sepertiga Ramadhan di Masjidil Haram.

Sesudah beberapa kali mcngalami gebyar-gebyar MTQ dunia di kota-kota besar, MTQ akhirat yang amat bersahaja dan tidak cari publikasi di kawasan petani bawang ini terasa jauh lebih ikhlas dan rendah hati dalam perasaan saya.

Oleh Taufiq Ismail (Penyair, Sastrawan)



Sumber: Majalah UMMAT No. 17 Thn. I. 19 Februari 1996/29 Ramadhan 1416 H

Selasa, 02 Agustus 2011

Siaran Pers: Penyuluh Agama Akan Gelar Kajian Umum Ramadhan Ahad 7 Agustus 2011

0 komentar

MIMBARPENYULUH.COM | Serang Baru -- Dalam rangka menghidupkan Ramadhan (ihyau ramadhan), Penyuluh Agama Islam Kecamatan Serang Baru akan menyelenggarakan Kajian Umum Ramadhan pada hari Ahad (7 Agustus 2011 / 7 Ramadhan 1432 H). Kegiatan kajian akan di laksanakan di masjid/pondok pesantren Nurul Hidayah, Kp. Gebang, Ds. Sukaragam, Kec. Serang Baru pukul 08.00 - 12.00 WIB.

Tema yang diangkat adalah "Bijak Menyikapi Perbedaam (ikhtilaf) di Tengah Ummat", dengan menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Ayub Rohadi, M.Phil (Ketua PD Ikadi Kabupaten Bekasi) dan H. Wawan Aonillah Kamil, MA. (Pengasuh Ponpes Al Kamiliyyah, Cibogo, Cibarusah).

Sementara itu, M. Hilman Hakim, S.Ag.MM selaku Kepala Seksi Penamas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi diagendakan hadir sebagai pembicara kunci (keynote speaker).


Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Serang Baru dengan Pengurus Cabang Salimah (Persaudaran Muslimah) Kecamatan Serang Baru ini terbuka untuk masyarakat umum baik laki-laki maupun perempuan, dan gratis.

Untuk informasi lebih lanjut masyarakat dapat menghubungi Penyuluh Agama di 0813 1560 9988.

Atau kontak Facebook di Abu Rasyidah Muhyiddin (Penyuluh Agama)

Belajar Menulis Sama Emha Ainun Najib

0 komentar
Catatan ini saya tulis setelah bertemu dengan Emha Ainun Najib (Cak Nun) di Pusdai Jabar, Bandung, 22 Agustus 2010. Mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Saya mengenal Emha Ainun Najib ketika masih duduk di bangku MTs. Di suatu Ramadlan, saya yang baru menginjak kelas satu MTs di MTs Negeri Cicaheum Bandung, sepulang sekolah berjalan menuju Kompleks Perguruan Muhammadiyah di Antapani Bandung. Saya ingin melihat pameran buku yang diselenggarakan Muhammadiyah Kota Bandung waktu itu. Sekitar tahun 1991. Saya pun menemui para asatidz yang menjaga stand buku madrasah Muamalah. Madrasah tempat saya mengaji di Sukakarya Cicadas Bandung. Madrasah ini sekarang tak berdiri lagi. Tak ada murid, tak ada guru.

Di sela-sela tumpukan buku, saya tertarik pada sebuah buku yang unik. Unik bentuknya, karena dibuka menyamping (landscape). Di cover buku ini, tergambar seorang lelaki berkumis. Sedikit saya kira ia Iwan Fals. Tetapi, tertulis Emha Ainun Najib. Buku dengan dominasi warna merah dan putih itu kelak yang mengantarkan saya suka membaca essay Emha Ainun Najib.

Ketika, saya menjadi anggota perpustakaan Jawa Barat, waktu itu masih bertempat di belakang gedung Merdeka di Jalan Cikapundung, saya sangat senang, karena banyak buku karangan Emha Ainun Najib. Saya melahapnya. Ketika, kawan saya di MTs juga menyelenggarakan pameran buku Ramadlan di Masjid Al Munawaah Padasuka pun, buku yang saya cari buku-buku Emha Ainun Najib. Bila ada pameran-pameran buku di tempat lain pun, saya kerap tertuju pada stand penerbit Mizan. Sebab, penerbit inilah yang menerbitkan buku-buku Cak Nun.

Kembali ke tulisan Cak Nun. Markesot bertutur, slilit sang kyai, dan buku-buku lainnya saya baca. Saya baru tahu, kalau Cak Nun mantan wartawan. Rasanya, negeri ini dibangun oleh wartawan, penulis. Adam Malik, Hamka, Agus Salim, dll founding father yang juga penulis. Cak Nun, yang saya kenal bukan hanya menulis essay tetapi puisi juga.

Pernah saya tahu, metode Cak Nun mengajarkan menulis, menulislah di atas kertas yang berwarna warni, biar eksplorasi pemikirannya jauh dan mendalam. Belum pernah saya melakukan metode itu. Tetapi, bisa juga dicoba. Secara psikologis, menulis di kertas yang berwarna putih menjemukan, karena kita hanyatahu kertas itu putih warnanya. Tetapi, dengan menulis di atas kertas warna warni, mengajak kita berpikir kertas saja berwarna warni kenapa pikiran kita jumud. Lebih asyik menulis di atas kertas berwarna warni.

Beberapa waktu yang lalu pun, kawan saya Wawan, yang sangat dekat dengan Emha, mentransfer metode menulis Emha, ketika kamu menulis, menulis saja. Jangan pedulikan, apakah tulisanmu itu layak masuk Koran atau tidak. Dan pede saja, tulisan kamu itu bagus. Tugas kamu itu menulis. Masalah dimuat atau tidak, dibaca atau tidak, bukan urusan kamu.

Pesan ini saya dapatkan dari Wawan, ketika saya curhat, tentang jarangnya anak-anak datang lagi ke perpustakaan kampong belajar di teras rumah saya. Tugas kamu itu mendirikan perpustakaan, menyediakan buku-buku, mengajak anak-anak membaca. Masalah mereka mau datang dan membaca bukan tugas kamu.

Saya jadi teringat ketika Nabi curhat pada Allah Swt tentang susahnya mengajak kepada ketauhidan kaum Quraiys. Tugas kamu itu mendakwahkan, masalah hidayah itu urusan-Ku, jawab Allah Swt. Semua orang mempunyai tugasnya masing-masing. Selesaikan saja tugas kita, masalah lain, itu ada orang yang memiliki tugasnya masing-masing.

Demikian pula di malam itu, di ruangan Adm Pusdai Jabar, saya mendapatkan pelajaran langsung dari guru imajiner saya ini. Seorang dari Kompas bertanya, kenapa sekarang jarang menulis lagi. Jawab sang Kyai, “Bukan jarang, tetapi tidak pernah lagi menulis.” “Saya menulis hanya untuk jamaah saya saja. untuk media, kalau nggak diminta saya ya nggak nulis.”

“Saya nulis itu untuk Allah Swt.” Tambah sang Kyai. Itu yang selama ini saya lupakan. Terkadang, kita menulis hanya untuk kepentingan duniawiyah. Mendapat honor, mengisi blog, dll. Tetapi, sejatinya apa saja yang kita lakukan di dunia ini haruslah untuk Allah. Menulis pun demikian, harus karena dan untuk Allah.

Rasanya, menulis karena dan untuk Allah, mestinya ditanamkan semenjak dini di saat kita sedang belajar menulis. Menulis, bukan kegiatan profane, tetapi sacral. Sakralitas ini ditunjukkan pula dengan tulisan yang kita buat. Sama seperti bekerja. Bekerjalah karena dan untuk Allah. Makan, makanlah karena dan untuk Allah. Semua menjadi sacral. Sehingga, kehidupan dunia dan akhirat itu menjadi tipis batasnya.

Lima episode di hari ini pun, saya tuliskan bukan untuk menyombongkan diri. Saya sekedar menulis, Anda mau baca atau tidak terserah Anda. Apresiasi positif maupun negative saya terima. Ini yang saya bisa buat. Kecil saja.

Catatan Kelik
Sumber: http://pondokmedia.web.id/archives/281